Salah Kaprah "Halal bi Halal" Sebelum Ramadhan: Sebuah Misnomer di Masyarakat_Dr. Roni Putra, M.Pd



Salah Kaprah "Halal bi Halal" Sebelum Ramadhan: Sebuah Misnomer di Masyarakat_Dr. Roni Putra, M.Pd

https://ronaldorozalino.wordpress.com/2026/02/14/salah-kaprah-halal-bi-halal-sebelum-ramadhan-sebuah-misnomer-di-masyarakat_dr-roni-putra-m-pd/

Dr. Roni Putra, M.Pd

​Dalam keseharian, kita sering kali terjebak dalam penggunaan istilah yang dianggap lumrah, padahal secara makna kurang tepat. Fenomena ini dalam studi bahasa disebut sebagai misnomer; sebuah sebutan atau nama yang salah alamat. Salah satu contoh yang paling sering kita jumpai adalah penggunaan istilah “Halal bi Halal” untuk acara menyambut bulan suci Ramadhan.

​Secara tradisi, masyarakat Indonesia memang memiliki kebiasaan berkumpul, makan bersama, dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan puasa. Namun, banyak spanduk atau undangan yang menuliskan acara tersebut sebagai “Halal bi Halal Menjelang Ramadhan”.

​Padahal, jika kita bedah maknanya:
👉Tarhib: berasal dari kata Rahaba (رحب) yang artinya melapangkan. Secara harfiah, ini adalah proses melapangkan hati dan menyambut bulan puasa dengan kegembiraan. Inilah istilah yang tepat untuk momen sebelum Ramadhan.

👉​Halal bi Halal: Istilah asli Indonesia yang secara historis melekat pada momen Idul Fitri (setelah puasa). Tujuannya adalah merayakan kemenangan dan mencairkan kesalahan setelah beribadah sebulan penuh.

​Misnomer ini terjadi bukan tanpa alasan. Pertama, istilah Halal bi Halal jauh lebih populer di telinga masyarakat ketimbang Tarhib. Kedua, adanya penyempitan makna di mana masyarakat menganggap Halal bi Halal hanyalah sinonim dari “acara maaf-memaafkan”, tanpa mempedulikan kapan momentumnya terjadi. Ketiga, Branding; dalam konteks acara formal atau pemerintahan, penggunaan istilah yang sudah dikenal luas dianggap lebih efektif untuk menarik kehadiran, meski secara semantik kurang akurat

​Mengapa kita perlu peduli? Karena istilah bukan sekadar deretan huruf, melainkan pembawa pesan dan filosofi. ​Tarhib menekankan pada kesiapan mental dan spiritual (persiapan). Sedangkan ​Halal bi Halal menekankan pada penyucian diri dan perayaan (hasil). ​

Mengembalikan istilah pada tempatnya adalah langkah kecil untuk menghargai kekayaan makna di balik tradisi kita. Mari kita sambut Ramadhan dengan “Tarhib” yang penuh kegembiraan, dan simpan “Halal bi Halal” untuk hari kemenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cetak 'Influencer' Cerdas: Pelajar Kuantan Tengah Siap Gebrak Dunia Digital Lewat Pelatihan Konten Kreator & Jurnalistik"

Curiculum Vitae Ronaldo Rozalino