Duduk Sejenak di D’teras Coffee, Menyapa Hari dengan Kopi_Aldian Syahmubara
Duduk Sejenak di D’teras Coffee, Menyapa Hari dengan Kopi_Aldian Syahmubara
Di D’teras Coffee, waktu seolah sengaja diperlambat. Tidak ada agenda resmi, tidak ada podium, apalagi pengeras suara. Yang ada hanya kursi plastik, meja kecil, beberapa cangkir kopi, dan obrolan yang mengalir apa adanya. Suasana santai seperti ini justru sering melahirkan percakapan paling jujur—tentang hidup, kerja, kegelisahan, juga rencana-rencana yang belum tentu besar, tapi nyata.
Di sela kepulan asap rokok dan bunyi sendok yang sesekali menyentuh cangkir, cerita demi cerita berganti. Ada tawa kecil, ada anggukan setuju, ada pula jeda sunyi yang justru terasa nyaman. Kopi tak lagi sekadar minuman, ia menjadi pengikat pertemuan, teman berpikir, sekaligus alasan untuk duduk lebih lama tanpa rasa bersalah.
D’teras Coffee bukan hanya tempat singgah, tapi ruang temu. Di sinilah orang-orang dengan latar belakang berbeda duduk sejajar, menanggalkan sejenak atribut dan kesibukan masing-masing. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Semua setara sebagai manusia yang sama-sama butuh didengar dan memahami.
Di teras sederhana ini, ide tidak dipaksa lahir, ia muncul dengan sendirinya. Percakapan tidak diarahkan, tapi mengalir mengikuti rasa. Kadang tentang hal remeh, kadang menyentuh persoalan yang lebih dalam. Namun justru dari kesederhanaan itulah, keakraban terbangun tanpa dibuat-buat.
Ketika kopi mulai dingin dan sore perlahan merapat, yang tersisa bukan hanya ampas di dasar cangkir. Ada kebersamaan yang mengendap, ada rasa pulang yang tidak selalu tentang rumah. Di D’teras Coffee, duduk sebentar bisa berarti banyak—sekadar rehat, atau mungkin menguatkan langkah untuk kembali melanjutkan hari.*(ald)
Komentar
Posting Komentar